Pesantren At-Tahdzib (P.A), Rejoagung, Ngoro, Jombang - Jawa Timur
admin@perkumpulanwahidiyah.org perkumpulanwahidiyah.org
Beranda / Ajaran Wahidiyah

Ajaran Wahidiyah

Bimbingan praktis lahiriyah dan batiniyah berpedoman Al-Qur'an dan Al-Hadits dalam bidang Islam, Iman, dan Ihsan.

Definisi Ajaran

Pengertian Ajaran Wahidiyah

"Ajaran Wahidiyah adalah bimbingan praktis lahiriyah dan batiniyah yang berpedoman kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits dalam menjalankan tuntunan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam meliputi bidang Islam, bidang Iman dan bidang Ihsan, mencakup segi syariat, segi haqiqot/ma’rifat dan segi akhlak."

Penerapan ajaran Lillah - Billah dan Lirrosul - Birrosul merupakan realisasi dalam praktik hati dari pengamalan dua kalimat syahadat: «Asyhadu allaa ilaaha illallooh wa asyhadu anna Muhammadar Rosuulullooh».

Pokok 1 لِلّٰهِ تَعَالَى

LILLAH

Segala amal perbuatan apa saja, baik yang berhubungan langsung kepada Alloh dan Rosul-Nya Shollallohu ‘alaihi wasallam, maupun yang berhubungan dengan masyarakat, dengan sesama makhluq pada umumnya, baik yang bersifat wajib, sunnah atau yang mubah (wenang), asal bukan perbuatan yang merugikan/bukan perbuatan yang tidak diridloi Alloh, melaksanakannya supaya disertai niat dan tujuan mengabdikan diri kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Esa dengan ikhlas tanpa pamrih! Lillahi ta’ala! “Laa ilaaha illallooh” (Tiada tempat mengabdi selain kepada Alloh).

"Wamaa kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduuni" — (Dan tiada Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-KU). (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)
Pokok 2 بِاللّٰهِ

BILLAH

Menyadari dan merasa senantiasa kapanpun dan di manapun berada, bahwa segala sesuatu termasuk gerak-gerik dirinya lahir batin adalah Alloh SWT Tuhan Maha Pencipta yang menciptakan dan menitahkan. Jangan sekali-kali merasa, lebih-lebih mengaku diri kita ini memiliki kekuatan dan kemampuan.

"Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah" — (Tiada daya dan kekuatan melainkan atas kehendak Alloh SWT).
Pokok 3 لِلرَّسُولِ وَ بِالرَّسُولِ

LIRROSUL & BIRROSUL

LIRROSUL: Di samping menerapkan LILLAH, dalam segala tindakan dan perbuatan apa saja, asal bukan perbuatan yang tidak diridloi Alloh, bukan perbuatan yang merugikan, supaya juga disertai niat mengikuti jejak tuntunan Rosuululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam.

"Yaa ayyuhalladziina aamanuu athii’ullooha wa athii’ur rosuula walaa tubthiluu a’maalakum" — (Hai orang-orang yang beriman [BILLAH], taatlah kepada Alloh [LILLAH] dan taatlah kepada Rosul [LIRROSUL], dan janganlah merusak amal-amalmu). (QS. Muhammad: 33)

BIRROSUL: Di samping sadar BILLAH, supaya juga menyadari dan merasa bahwa segala sesuatu termasuk gerak-gerik dirinya lahir batin (yang diridloi oleh Alloh) adalah sebab syafaat dan jasa Rosuululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam.

"Wamaa arsalnaaka illaa rohmatal lil’aalamiin" — (Dan tiadalah Kami mengutus Engkau [Muhammad] melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam). (QS. Al-Anbiyaa: 107)
Pokok 4 يُؤْتِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

YUKTI KULLA DZI HAQQIN HAQQOH

Mengisi dan memenuhi segala bidang kewajiban, melaksanakan kewajiban di segala bidang tanpa menuntut hak. Baik kewajiban terhadap Alloh Subhanahu Wa Ta’ala Wa Rosuulihi Shollallohu ‘alaihi wasallam, maupun kewajiban-kewajiban yang berhubungan dengan masyarakat di segala bidang dan terhadap makhluq pada umumnya.

Pokok 5 تَقْدِيْمُ الْأَهَمِّ فَالْأَهَمِّ ثُمَّ الْأَنْفَعِ فَالْأَنْفَعِ

TAQDIMUL AHAM FAL AHAM TSUMMAL ANFA' FAL ANFA'

Di dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut supaya mendahulukan yang lebih penting (Ahammu). Jika sama-sama pentingnya, supaya dipilih yang lebih besar manfaatnya (Anfa’u).

Hal-hal yang berhubungan kepada Alloh SWT wa Rosuulihi SAW, terutama yang wajib, pada umumnya harus dipandang “Ahammu” (lebih penting). Dan hal-hal yang manfaatnya dirasakan juga oleh orang lain atau umat dan masyarakat pada umumnya harus dipandang “Anfa’u” (lebih bermanfaat).